Rabu, 27 Februari 2008

Sepanjang Apa?

Banyak yang berbasa-basi kepadaku, ''Hari ini, aku yang ke berapa?''
Aku paling malas menjawabnya. Karena memang tidak semua mereka mengharapkan jawaban sesungguhnya. Rata-rata, mereka hanya iseng, atau ingin membuktikan bahwa mereka adalah yang pertama pada hari itu sebagai sugesti dan bagian dari fantasi. Kalau mereka tetap mendesak, aku menjawab seadanya. ''Rasakan saja. Kalau masih sempit, berarti kamu yang pertama,'' Biasanya, mereka puas karena menganggap sebagai yang pertama. Maklum, bagiku, mau yang pertama atau yang ke sepuluh, tetap rasa yang pertama. Bukankah urusan sempit dan memabukkan itu adalah soal teknik?
Tapi malam tadi ada yang bertanya kepadaku, ''Sudah berapa banyak lelaki yang menyentuh kedalaman lubukmu?''
Sebenarnya aku mau menjawab seadanya. Tapi kulihat dia bertanya dengan perasaan. Tentu saja tak adil kalau kujawab tanpa perasaan.
Tapi, aku harus menjawab apa? Apakah harus kujawab dengan angka seperti itu; 3.490-an? Pasti dia kecewa. Karena itu akan menurunkan semangat juangnya. Akan mengecewakannya. Akan membuat dia merasa hanya mendapat sepah (walaupun itulah hakikatnya...)
''Kalau seluruh kemaluan lelaki yang pernah menyentuh kedalaman kemaluanku disambung, bisa membuat ruas jalan Banda Aceh - Jakarta,'' kataku.
Dia langsung tertawa. Ternyata dia cerdas dan berperasaan. Dia tidak marah. Walau aku jujur dan itu menyakitkan baginya, tapi jawabanku berhasil menggelitik urat tawa dan sisi kemanusiaan di hatinya.
''Ukuran itu ketika para kemaluan itu ereksi atau pasca ereksi?'' katanya.
Kali ini aku yang tertawa. Ternyata leluconnya renyah dan berkelas juga.
''Pasti ketika pasca ereksi, dong. Kalau sedang ereksi, sepertinya dari Sabang sampai Merauke,'' kataku.
Kami tertawa bareng sampai mengeluarkan air mata. Badannya terbungkuk-bungkuk. Sesekali bibirnya yang agak tebal itu singgah di belah dadaku tanpa sengaja.
Tahukah engkau, kalau 3.499 itu adalah angka yang banyak, dan mampu membangun lebuh raya yang sangat panjang???
Lalu dia menceritakan kepadaku kisah seorang tukang sunat. Katanya, dulu ada tukang sunat di kampungnya yang punya kebiasaan aneh. Setiap ujung kulup lelaki dipotong, bagian itu selalu disimpan. Karena sudah bertahun-tahun bekerja seperti itu dan berhasil mengumpulkan kulup dalam jumlah banyak, dia pun berinisiatif untuk membuat tas permintaan anaknya yang ingin sekolah. Lalu, para kulup itu diguntingnya, dijahitnya, dan jadilah sebuah tas.
Tapi, kemudian anaknya protes karena ternyata ukuran tas itu sangat kecil. Sebesar telapak tangan. Hanya muat pensil dan penggaris. Sang tukang sunat tak habis akal. ''Itu tas ajaib peninggalan Jin Aladin, anakku. Kalau tak pernah disentuh dia hanya sebesar telapak tangan. Tapi bila engkau gosok, dia akan membesar. Sebesar koper jemaah haji pun akan engkau dapatkan,''
Aku benar-benar tertawa...

0 komentar: