Senin, 24 Maret 2008
Jumat, 21 Maret 2008
Nahla
Panggil aku Nahla. Dalam bahasa Arab aku berarti lebah madu; honey bee. Kalau kamu suka memanggilku dengan honey, atau bee, tetap saja indah di telingaku. Aku menerimanya. Nama Nahla diberikan ayah dan bunda dengan harapan aku bisa menjadi lebah madu; memakan yang halal saja, memberi manfaat di tempat dia berada, tak pernah meninggalkan kasus, dan apapun yang ada padaku selalu bisa dimanfaatkan.
Aku suka dengan namaku. Aku selalu mengejanya ketika malam telah pulang. Ketika mata sebagian besar orang telah lelah lelap. Namaku, kata ayah dan bunda, sangat indah. Karena itu pula nama itu sangat kujaga. Tidak semua orang yang berhak mengetahuinya. Hanya orang-orang suci sepertimu yang berhak menyebutnya. Serius, dari 3.499 lelaki yang pernah meniduriku, tak ada satupun yang menyebut namaku Nahla. Karena aku memang punya nama kasur, seperti penulis yang juga punya nama pena. Nama kasurku itu, bisa siapa saja. Kadang sangat tradisional seperti Neneng, Imah, Zaitun, atau Halimah. Kadang bergaya barat seperti Carol, Sandra, Jennifer, dan juga pernah Margareth. Ada pula aku membuat nama yang tidak biasa seperti Acid, Fusarium, Mente, Hampa, Excuse, dan lainnya.
Bagi mereka yang mengharapkan layanan kasur dariku, nama memang tidak terlalu penting. Nama tidak terlalu membantu sensasi. Yang paling penting bagi mereka adalah bagaimana aku membuat mereka jadi lupa sama istri. Lupa waktu. Lupa dunia. Lupa hidup akan mati. Lupa duit akan habis. Dan yang pasti, tidak akan pernah lupa denganku.
Namaku Nahla. Aku adalah madu. Bukan hanya lebah. Kamu perlu manis atau sengatku?
Diposting oleh
Saidul Tombang
di
10.21
0
komentar